Suatu hari saya iseng kenalan dan ngobrol dengan seorang tukang kebun yang masih sangat muda. Sebut saja namanya Ipul. Ipul sudah dua tahun drop out dari SMA kelas 2, katanya karena alasan biaya. Saya tanyakan apa cita-citanya andaikata bisa lulus sekolah? Ipul bilang,” Yah, yang penting dapat kerja”. Saya tanya lagi, ingin gaji berapa?. “Sekitar 500 rb lah”, jawabnya enteng.Hah...!! Mungkin itu juga pernah Anda dengar dari keluarga Anda, teman-teman Anda, tetangga Anda. Begitu banyak orang tidak memiliki rencana masa depan apalagi impian. Hidup mengalir saja, sekedar bertahan hidup sudah bagus.Saya tanyakan lagi,”Saya punya sekolah bisnis, mau nggak kamu ikut sekolah saya 2 tahun. Selama 2 tahun kamu cukup belajar 20 buku”. Dia bilang,” Nggak mau, saya sudah bosan baca buku”. Saya kejar lagi,” Kalau kamu disuruh baca 100 buku selama dua tahun, lulus langsung diterima kerja gaji 2 jt dan sampai mati tidak mungkin dipecat meskipun kamu dipenjara. mau nggak?”. “MAU DONG ..!!” jawab Ipul TEGAS. “Tapi bukunya kamu beli sendiri lho... habisnya sekitar 5 juta”, kata saya ngetest. Rupanya dia konsisten, “Yang penting sudah pasti kerja dan pasti gajinya, biar habis 5 juta saya mau”.
Wah hebat juga nih. Betul juga kata orang bijak, “Tidak ada orang malas, yang ada orang tidak termotivasi”. Semua orang mau melakukan pengorbanan apapun kalau masa depannya PASTI mendapatkan yang LEBIH BESAR dari pengorbanannya. Kalau begitu, supaya orang mau berkorban, berarti harus mendapatkan rasa PASTI UNTUNG? Tidak juga. Faktanya begitu banyak orang mau berkorban untuk sesuatu yang hanya BERPELUANG. Semua orang mau mengorbankan uang untuk sekolah/kuliah, padahal berapa banyak lulusan sekolah yang BERPELUANG diterima kerja? Faktanya..., kurang dari 10% yang menjadi PNS atau mendapat pekerjaan swasta yang layak. Sisanya kerja serabutan, cari-cari usaha sendiri, nebeng sana nebeng sini, yang penting hidup
Mengapa banyak orang mau berkorban untuk sebuah PELUANG yang TIDAK PASTI? Sederhana saja, mereka termotivasi oleh rasa PASTI yang lain. Meskipun sekolah belum tentu dapat pekerjaan tetapi kalau tidak sekolah PASTI tidak dapat kerja. Jadi orang tergerak sebetulnya bukan karena sebuah IMPIAN MENDAPATKAN PEKERJAAN YANG LAYAK tetapi oleh ketakutan PASTI TIDAK DAPAT PEKERJAAN.
Kesimpulannya, orang akan tergerak oleh dua rasa yakin. < Pertama, keinginan PASTI UNTUNG. Yang kedua, ketakutan PASTI RUGI.
Setiap tindakan kita secara sadar atau tidak sadar pasti dipengaruhi oleh keinginan mendapatkan sesuatu kenikmatan atau ketakutan terhadap kepedihan. Seberapa besar orang tergerak tergantung seberapa besar rasa yakinnya. Misalnya, seseorang yang ingin jalan-jalan ke hutan sambil berpikir,” Siapa tahu ketemu rusa”. Orang ini jelas punya keinginan tetapi tidak yakin, pada akhirnya tidak akan menggerakkan seluruh potensinya. Tetapi jika kebetulan orang ini bertemu rusa, rasa yakin mendadak naik 100X lipat dan dapat dipastikan seluruh otot dan pikirannya dikerahkan untuk menangkap rusa.
Kembali ke soal buku. Kalau Si Ipul, tukang kebun drop out, mau membaca 100 buku untuk mendapatkan penghasilan NANTI, 2 tahun yang akan datang, 2 juta rupiah saja. Mengapa begitu banyak yang ngaku leader, pemimpin masa depan, tapi nggak mau baca buku. Sekalipun sponsor atau upline sampai bosan mengingatkan, mereka tetap konsisten dan ngotot tidak mau membaca buku. LUAR BIASA...!! Setidaknya saya pernah menemui beberapa ‘pembenaran-pembenaran’ berikut. Masing-masing memiliki alasan yang berbeda. Inilah ‘pembenaran’ yang harus dibenarkan
Pertama, tidak punya impian. Dia cuma kepingin.tetapi tidak punya alasan yang kuat untuk ‘HARUS’. Kalau keinginannya tidak kuat, tidak sukses juga tidak apa-apa, keinginan tidak terwujud juga tidak apa-apa, lalu untuk apa baca buku?
Kedua, mengumpulkan banyak alasan ‘kepedihan’ membaca buku, Misalnya : membosankan, mengantuk dan pusing, tidak punya uang, harus mengurangi belanja lain artinya mengurangi kenikmatan hidup dsb.
(Jika saja kita terus mengumpulkan alasan ‘kepedihan’ jika tidak membaca buku, daftarnya akan jauh lebih panjang). Misalnya :
- Lebih sulit mejalankan bisnis, bonus kecil, jaringan tidak berkembang, impian tinggal mimpi
- Dicemooh dan malu dengan keluarga, tetangga karena terbukti berhasil menjadi orang gagal
- Malu kepada downline karena tidak mampu membimbing mereka untuk sukses.
- Jika tidak sukses di bisnis ini karena tidak mau membaca buku sulit mengharapkan sukses di tempat lainnya. Dimanapun kita berada selama tidak mau belajar hampir dipastikan tidak sukses
Ketiga, menyederhanakan bisnis ini hanya pekerjaan presentasi dan folow up. Membaca buku bukan hal yang menentukan sukses atau tidak. (Memang benar pekerjaan utama kita presentasi dan follow up. Tetapi untuk presentasi yang bermutu dan berkelanjutan, kita harus memiliki pengetahuan berhubungan baik dengan orang, mengelola kekecewaan2, memberikan pelayanan konsultasi masalah-masalah yang dihadapi jaringan dsb. Sayangnya semua itu harus didapatkan dari buku)
Keempat, merasa sudah ahli. Tanpa membaca buku pun sudah yakin bisa. Melupakan bahwa ini adalah bisnis waralaba. Bisnis ber-system. Bisnis bersistem adalah bisnis menduplikasikan cara yang sama. (Leader is Reader. Jika kita ingin mencetak banyak leader, mau tidak mau kita menduplikasikan kebiasaan memiliki dan membaca buku. Hatta kita sudah ahli, mentransfer ilmu saja tidak cukup. Ibarat memberi ikan tanpa pernah memberi pancing. Kita tidak punya cukup banyak waktu untuk mentransfer ilmu, yang terpenting dilakukan adalah mengajarkan bagaimana mencari ilmu.Pada kenyataannya leader yang semakin banyak membaca buku biasanya semakin merasa bodoh. Jadi bisa dipastikan kalau seseorang merasa sudah bisa, artinya sebetulnya sangat jauh dari bisa. Apakah Anda merasa bisa? )
Kelima, tidak komitmen di bisnis ini. Tidak berani membayar harganya. Kalau ‘memaksa diri’ membaca buku saja tidak mau, hampir dapat dipastikan, leader ini juga tidak mau ‘membayar harga’ dalam bentuk lainnya.
(Doa paling makbul adalah pada waktu 1/3 malam terakhir setelah shalat malam. Mengapa? Karena itu adalah saat tidur yang paling lelap, paling nikmat. Artinya, Allah SWT memprioritaskan orang-orang yang berani membayar harganya dengan meninggalkan zona kenyamanan)
Keenam, tidak melihat fakta secara komprehensif. Tidak semua pembaca buku, sukses di bisnis ini (karena bukan satu-satunya aktivitas di bisnis ini), tetapi tidak ada yang sukses di bisnis ini tanpa membaca buku. (Jikapun ada, itu karena ‘kebetulan’ mendapatkan leader yang luar biasa di jar. Kebetulan saya beri tanda kutip karena yang saya maksud bukan kebetulan dari langit tetapi karena konsistensi beliau bertahan dan terus bertahan sampai menemukan leader yang luar biasa yang mau menduplikasikan membaca buku. Dengan ketekunan dan ketabahan Anda bisa mendapatkan ‘kebetulan’, tetapi dengan membaca dan menduplikasikan, Anda menciptakan dan mempercepat ‘kebetulan’ anda sendiri)
Pak, saya sudah paksa baca buku tapi tidak masuk-masuk? Boleh saya tebak, Anda membaca karena dorongan motivasi dari luar. Mungkin Anda merasa didorong-dorong terus oleh upline, mungkin juga sekedar ingin tahu biar ‘nyambung’ dengan teman-teman atau Anda sekedar memenuhi anjuran system. Dorongan itu tidak salah, bahkan bila perlu pada awalnya Anda ditodong pistol supaya mau memulai kebiasaan baru. Tetapi selanjutnya, Anda harus melengkapinya dengan menemukan motivasi dari dalam diri Anda sendiri (intrinsik motivation) :
Mengapa saya membaca buku? Kumpulkan alasan sebanyak-banyaknya. Semakin banyak alasan, pikiran Anda semakin merasakan penting dan mendesaknya membaca buku. Hasilnya daya tangkap Anda akan tumbuh luar biasa. Bagaimana jika sulit menemukan alasan pribadi? Tetap aja paksa membaca buku. Saya yakin secara kebetulan Anda akan menemukan alasan di buku yang Anda baca. Anda akan menemukan manfaat-manfaat yang tidak pernah Anda rencanakan. Saat awal-awal mencoba membaca saya sering secara spontan mengatakan,”Ooooh begini toh, ini yang saya cari cari...” atau “Wah, ternyata selama ini saya tidak benar” Dsb. Jika ini terjadi berulang-ulang, tanpa Anda sadari, Anda menjadi begitu bergairah merasakan sensasi-sensasi menemukan hal-hal baru dalam kehidupan Anda. Begitu pikiran Anda terbuka, akan semakin banyak yang masuk. Anehnya semakin banyak yang masuk, pikiran Anda terasa semakin kosong. Anda akan kecanduan dan ingin membaca jauh lebih banyak buku lagi. Saya punya tips pribadi, boleh dicoba. Jika saya meniatkan diri membaca buku untuk membantu orang lain, tiba-tiba daya tangkap saya meningkat 100X lipat. Biasanya saya mulai dengan pertanyaan : apa yang bisa saya berikan untuk Bapak A.? Atau apa yang bisa saya lakukan untuk membantu komunitas B tumbuh dan berkembang? Saya membuat catatan penting hal-hal yang ingin saya sampaikan. Tahap selanjutnya saya merencanakan bertemu dengan seseorang atau komunitas yang ingin saya bantu tersebut. Disitulah saya mentransfer semua ilmu yang sudah saya pelajari sebelumnya. Itulah sebabnya saya suka membuat pertemuan-pertemuan untuk sharing. Semakin banyak pertemuan, semakin saya termotivasi dan saya merasa kecerdasan saya terus tumbuh. Biasanya jika Anda banyak membaca buku, pasti banyak pula yang Anda sudah lupa isinya. Tetapi jika Anda meniatkan untuk membantu orang lain, semakin sering dan semakin banyak Anda bagikan semakin bertambah dan melekat ilmu-ilmu itu di pikiran Anda. Semakin baik yang Anda ingin bagikan, semakin sempurna ilmu di pikiran Anda. Untuk kecerdasan tertinggi Anda, mulailah membuat banyak jadwal untuk membagikan ‘isi kepala’ Anda. Semakin banyak Anda menolong orang, semakin jauh lebih banyak pertolongan yang Anda terima.
Saya tidak punya uang? Membaca buku adalah investasi termurah yang memberikan hasil terbesar dalam kehidupan kita. Tidak ada investasi yang memiliki return on investment se-fantastis ini. Sebelum Anda terancam busung lapar, Anda tidak punya alasan untuk mengatakan tidak punya uang. Mungkin betul uang tidak ada dalam dompet Anda. Tetapi Anda punya dalam bentuk lainnya. Jual televisi Anda, jual kasur Anda, jual baju Anda. Anda boleh tidak punya apa-apa tapi tidak boleh berhenti belajar. Televisi bukan hanya tidak penting tetapi menganggu kesuksesan Anda. Acara-acara televisi dibuat untuk masyarakat kebanyakan, bisa dicerna oleh pikiran orang rata-rata. Jika Anda banyak nonton TV, artinya Anda membiasakan diri berpikir dengan kemampuan berpikir orang rata-rata. Itulah sebabnya banyak orang-orang sukses meninggalkan TV saat perjalanan menuju sukses. Mereka takut terinfeksi cara berpikir rata-rata. Sebaliknya, buku dibuat untuk melayani kebutuhan sebagian kecil masyarakat yang haus ilmu pengetahuan dan peduli terhadap pertumbuhan kecerdasan mereka. Jika Anda berani menjual TV untuk membeli buku, artinya Anda menyiapkan diri menjadi golongan minoritas. Masuk golongan 5% masyarakat yang dikejar-kejar uang. Jika waktunya datang, setiap menit Anda bisa membeli TV. Banyak juga distributor yang ngaku tidak punya uang tapi rokoknya tidak berhenti mengepul. Masih naik motor terbaru yang harganya di atas rata-rata. Yang terjadi sebetulnya adalah ketakutan menggunakan uangnya karena tidak ada keyakinan. Orang terlalu percaya bahwa pendidikan formal lebih menjamin kesuksesan. Kalau anak harus masuk sekolah SMA, jual motor, jual sapi jual apa saja tidak masalah. Pendidikan pengembangan diri tidak diyakini sebagai kunci sukses, karena itulah mereka tidak berani membayarnya. Nyatanya kebalik tuh. 90% penentu sukses adalah impian dan sikap. Tetapi 90% materi pendidikan formal justeru fokus pada hal-hal yang bersifat teknis. Artinya pendidikan formal hanya membantu 10% untuk meraih sukses. Sebaliknya, semua buku-buku pengembangan diri berfokus pada pengembangan impian dan sikap. Jika untuk pendidikan formal yang hanya membantu 10% kesuksesan, orang tua berani menjual motor, bagaimana dengan pengembangan diri yang menentukan 90% sukses? Kalau Anda memahami hal mendasar ini, Anda tidak ragu lagi menukar benda-benda yang tidak lebih penting dari ilmu pengetahuan. Harta benda membuat Anda repot menjaganya, sebaliknya ilmu pengetahuan itulah yang akan selalu menjaga Anda. Kok dari awal sampai akhir bicara buku.
alu apa hubungannya dengan surga? TIDAK ADA HUBUNGANnya, HA...HA...HA.... Tapi Anda mendapat sesuatu dari membaca tulisan ini khan? Artinya apa? Jika Anda berkomitmen membaca buku, Anda bukan hanya mendapatkan apa yang Anda cari tetapi Anda juga mendapatkan banyak hal penting yang Anda sendiri belum pernah terpikir untuk mencarinya. Demikian juga dengan kehidupan Anda, jika Anda berkomitmen mencari hal-hal positif dan mulia, sekalipun yang Anda cari tidak pernah Anda temukan, Anda pasti menemukan banyak hal yang bermanfaat bagi kehidupan Anda. Success is journey not destination. Journey to success is more important than succes itself.
Keempat, merasa sudah ahli. Tanpa membaca buku pun sudah yakin bisa. Melupakan bahwa ini adalah bisnis waralaba. Bisnis ber-system. Bisnis bersistem adalah bisnis menduplikasikan cara yang sama. (Leader is Reader. Jika kita ingin mencetak banyak leader, mau tidak mau kita menduplikasikan kebiasaan memiliki dan membaca buku. Hatta kita sudah ahli, mentransfer ilmu saja tidak cukup. Ibarat memberi ikan tanpa pernah memberi pancing. Kita tidak punya cukup banyak waktu untuk mentransfer ilmu, yang terpenting dilakukan adalah mengajarkan bagaimana mencari ilmu.Pada kenyataannya leader yang semakin banyak membaca buku biasanya semakin merasa bodoh. Jadi bisa dipastikan kalau seseorang merasa sudah bisa, artinya sebetulnya sangat jauh dari bisa. Apakah Anda merasa bisa? )
Kelima, tidak komitmen di bisnis ini. Tidak berani membayar harganya. Kalau ‘memaksa diri’ membaca buku saja tidak mau, hampir dapat dipastikan, leader ini juga tidak mau ‘membayar harga’ dalam bentuk lainnya.
(Doa paling makbul adalah pada waktu 1/3 malam terakhir setelah shalat malam. Mengapa? Karena itu adalah saat tidur yang paling lelap, paling nikmat. Artinya, Allah SWT memprioritaskan orang-orang yang berani membayar harganya dengan meninggalkan zona kenyamanan)
Keenam, tidak melihat fakta secara komprehensif. Tidak semua pembaca buku, sukses di bisnis ini (karena bukan satu-satunya aktivitas di bisnis ini), tetapi tidak ada yang sukses di bisnis ini tanpa membaca buku. (Jikapun ada, itu karena ‘kebetulan’ mendapatkan leader yang luar biasa di jar. Kebetulan saya beri tanda kutip karena yang saya maksud bukan kebetulan dari langit tetapi karena konsistensi beliau bertahan dan terus bertahan sampai menemukan leader yang luar biasa yang mau menduplikasikan membaca buku. Dengan ketekunan dan ketabahan Anda bisa mendapatkan ‘kebetulan’, tetapi dengan membaca dan menduplikasikan, Anda menciptakan dan mempercepat ‘kebetulan’ anda sendiri)
Pak, saya sudah paksa baca buku tapi tidak masuk-masuk? Boleh saya tebak, Anda membaca karena dorongan motivasi dari luar. Mungkin Anda merasa didorong-dorong terus oleh upline, mungkin juga sekedar ingin tahu biar ‘nyambung’ dengan teman-teman atau Anda sekedar memenuhi anjuran system. Dorongan itu tidak salah, bahkan bila perlu pada awalnya Anda ditodong pistol supaya mau memulai kebiasaan baru. Tetapi selanjutnya, Anda harus melengkapinya dengan menemukan motivasi dari dalam diri Anda sendiri (intrinsik motivation) :
Mengapa saya membaca buku? Kumpulkan alasan sebanyak-banyaknya. Semakin banyak alasan, pikiran Anda semakin merasakan penting dan mendesaknya membaca buku. Hasilnya daya tangkap Anda akan tumbuh luar biasa. Bagaimana jika sulit menemukan alasan pribadi? Tetap aja paksa membaca buku. Saya yakin secara kebetulan Anda akan menemukan alasan di buku yang Anda baca. Anda akan menemukan manfaat-manfaat yang tidak pernah Anda rencanakan. Saat awal-awal mencoba membaca saya sering secara spontan mengatakan,”Ooooh begini toh, ini yang saya cari cari...” atau “Wah, ternyata selama ini saya tidak benar” Dsb. Jika ini terjadi berulang-ulang, tanpa Anda sadari, Anda menjadi begitu bergairah merasakan sensasi-sensasi menemukan hal-hal baru dalam kehidupan Anda. Begitu pikiran Anda terbuka, akan semakin banyak yang masuk. Anehnya semakin banyak yang masuk, pikiran Anda terasa semakin kosong. Anda akan kecanduan dan ingin membaca jauh lebih banyak buku lagi. Saya punya tips pribadi, boleh dicoba. Jika saya meniatkan diri membaca buku untuk membantu orang lain, tiba-tiba daya tangkap saya meningkat 100X lipat. Biasanya saya mulai dengan pertanyaan : apa yang bisa saya berikan untuk Bapak A.? Atau apa yang bisa saya lakukan untuk membantu komunitas B tumbuh dan berkembang? Saya membuat catatan penting hal-hal yang ingin saya sampaikan. Tahap selanjutnya saya merencanakan bertemu dengan seseorang atau komunitas yang ingin saya bantu tersebut. Disitulah saya mentransfer semua ilmu yang sudah saya pelajari sebelumnya. Itulah sebabnya saya suka membuat pertemuan-pertemuan untuk sharing. Semakin banyak pertemuan, semakin saya termotivasi dan saya merasa kecerdasan saya terus tumbuh. Biasanya jika Anda banyak membaca buku, pasti banyak pula yang Anda sudah lupa isinya. Tetapi jika Anda meniatkan untuk membantu orang lain, semakin sering dan semakin banyak Anda bagikan semakin bertambah dan melekat ilmu-ilmu itu di pikiran Anda. Semakin baik yang Anda ingin bagikan, semakin sempurna ilmu di pikiran Anda. Untuk kecerdasan tertinggi Anda, mulailah membuat banyak jadwal untuk membagikan ‘isi kepala’ Anda. Semakin banyak Anda menolong orang, semakin jauh lebih banyak pertolongan yang Anda terima.
Saya tidak punya uang? Membaca buku adalah investasi termurah yang memberikan hasil terbesar dalam kehidupan kita. Tidak ada investasi yang memiliki return on investment se-fantastis ini. Sebelum Anda terancam busung lapar, Anda tidak punya alasan untuk mengatakan tidak punya uang. Mungkin betul uang tidak ada dalam dompet Anda. Tetapi Anda punya dalam bentuk lainnya. Jual televisi Anda, jual kasur Anda, jual baju Anda. Anda boleh tidak punya apa-apa tapi tidak boleh berhenti belajar. Televisi bukan hanya tidak penting tetapi menganggu kesuksesan Anda. Acara-acara televisi dibuat untuk masyarakat kebanyakan, bisa dicerna oleh pikiran orang rata-rata. Jika Anda banyak nonton TV, artinya Anda membiasakan diri berpikir dengan kemampuan berpikir orang rata-rata. Itulah sebabnya banyak orang-orang sukses meninggalkan TV saat perjalanan menuju sukses. Mereka takut terinfeksi cara berpikir rata-rata. Sebaliknya, buku dibuat untuk melayani kebutuhan sebagian kecil masyarakat yang haus ilmu pengetahuan dan peduli terhadap pertumbuhan kecerdasan mereka. Jika Anda berani menjual TV untuk membeli buku, artinya Anda menyiapkan diri menjadi golongan minoritas. Masuk golongan 5% masyarakat yang dikejar-kejar uang. Jika waktunya datang, setiap menit Anda bisa membeli TV. Banyak juga distributor yang ngaku tidak punya uang tapi rokoknya tidak berhenti mengepul. Masih naik motor terbaru yang harganya di atas rata-rata. Yang terjadi sebetulnya adalah ketakutan menggunakan uangnya karena tidak ada keyakinan. Orang terlalu percaya bahwa pendidikan formal lebih menjamin kesuksesan. Kalau anak harus masuk sekolah SMA, jual motor, jual sapi jual apa saja tidak masalah. Pendidikan pengembangan diri tidak diyakini sebagai kunci sukses, karena itulah mereka tidak berani membayarnya. Nyatanya kebalik tuh. 90% penentu sukses adalah impian dan sikap. Tetapi 90% materi pendidikan formal justeru fokus pada hal-hal yang bersifat teknis. Artinya pendidikan formal hanya membantu 10% untuk meraih sukses. Sebaliknya, semua buku-buku pengembangan diri berfokus pada pengembangan impian dan sikap. Jika untuk pendidikan formal yang hanya membantu 10% kesuksesan, orang tua berani menjual motor, bagaimana dengan pengembangan diri yang menentukan 90% sukses? Kalau Anda memahami hal mendasar ini, Anda tidak ragu lagi menukar benda-benda yang tidak lebih penting dari ilmu pengetahuan. Harta benda membuat Anda repot menjaganya, sebaliknya ilmu pengetahuan itulah yang akan selalu menjaga Anda. Kok dari awal sampai akhir bicara buku.
alu apa hubungannya dengan surga? TIDAK ADA HUBUNGANnya, HA...HA...HA.... Tapi Anda mendapat sesuatu dari membaca tulisan ini khan? Artinya apa? Jika Anda berkomitmen membaca buku, Anda bukan hanya mendapatkan apa yang Anda cari tetapi Anda juga mendapatkan banyak hal penting yang Anda sendiri belum pernah terpikir untuk mencarinya. Demikian juga dengan kehidupan Anda, jika Anda berkomitmen mencari hal-hal positif dan mulia, sekalipun yang Anda cari tidak pernah Anda temukan, Anda pasti menemukan banyak hal yang bermanfaat bagi kehidupan Anda. Success is journey not destination. Journey to success is more important than succes itself.

Judul: SURGA KINI BISA DILIHAT
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Ditulis Oleh 10:19 PM
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Ditulis Oleh 10:19 PM
0 komentar:
Post a Comment